Songket Kuno Minang Kabau Tak Di Kenal Di Dalam, Raih 2 Penghargaan Unesco
PDF Print E-mail
Rabu, 16 Januari 2013 | Padang. Dua helai kain Songket Minang bermotif kuno karya studio Erika Rianti, Nagari Batu Taba, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, memperoleh penghargaan Seal of Excellence dari lembaga kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) UNESCO.

Piagam penghargaan yang diterima tersebut, langsung diberikan oleh Direktur studio Erika Rianti NANDA WIRAWAN kepada Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Barat NEVI IRWAN PRAYITNO.


Nevi Irwan Prayitno mengaku kagum dan bangga, dengan karya serta prestasi yang diraih oleh studio Erika Rianti. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan bukti, sekaligus motivasi bagi penenun tradisional di Sumatera Barat, bahwa masih ada perhatian bagi mereka yang tekun melestarikan warisan budaya dari kepunahan melalui karya tradisional.


Nevi Irwan Prayitno menambahkan, sebagai bentuk dukungan bagi perkembangan serta eksistensi karya songket kuno, pihaknya akan membantu untuk memasarkan kain tersebut kepada pengurus dekranasda di Indonesia.


Sementara itu, Direktur Studio Songket Erika Rianti Nanda Wirawan mengatakan, kain songket yang mendapat penghargaan itu yakni bermotif Saluak Laka dan Saik Ajik Babungo Motif Koto Gadang. Penghargaan diterima pada ajang penganugerahan kerajinan unggulan terbaik yang digelar UNESCO di Malaysia pada akhir Desember lalu.
Nanda mengakui, dalam upaya meproduksi ulang songket motif kuno, pihaknya mengalami berbagai tantangan. Ia mengatakan, untuk mereplika tenun kuno Minangkabau yang hampir punah tersebut, terlebih dahulu diadakan riset dan mencari dokumen foto kain itu hingga ke museum yang ada di luar negeri.


Proses desain motif pun dikerjakan dalam kurun waktu 1 tahun, dan tahap penenunan dilakukan selama 4 bulan, dengan menggunakan kain dan benang import dari Paris. Kerumitan yang juga dihadapi dalam pengerjaan songket Saluak Laka, khususnya, yakni menghidupkan motif kayu yang memiliki tekstur berlekuk-lekuk dengan ketebalan berbeda-beda.


Nanda menambahkan, sejak tahun 2008 hingga saat ini studio songket Erika Rianti telah memproduksi 32 desain songket motif kuno yang dituangkan dalam 300 helai kain. Mengingat kesulitan dan nilai estetika budaya yang tinggi, serta pewarnaan alami, maka songket itu dijual dengan harga mulai 2,5 juta hingga 25 juta rupiah. Konsumen songket Minangkabau rata-rata kelas menegah atas, dan sebagian besar para kolektor.(RNS)
 
Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
pupupu