Sumbar Pasang 70 Sirine Tsunami Tahun 2013
PDF Print E-mail
Selasa, 22 April 2013 | Padang. Sumatera Barat terus membangun rantai peringatan dini tsunami yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota. Ancaman Megatrusth yang diperkirakan para ahli masih tersimpan di Siberut Kabupaten Mentawai, Sumbar, apabila energinya keluar dengan kekuatan 8,9 skala richter akan menimbulkan stunami.

Manajer Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Provinsi Sumatera Barat, Ade Edwar mengatakan, apabila prediksi itu terjadi, dampaknya akan melanda tujuh daerah kabupaten dan kota yang berada di pesisir pantai barat Sumtera Barat meliputi, Mentawai, Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang, Pariaman, Kabupaten Agam, Pasaman Barat dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Untuk mengurangi resiko bencana itu, selain telah membangun jalur evakuasi dan shelter serta alat pemantau permukaan air, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, juga tengah membangun 10 dari 70 unit sirine peringatan dini tsunami yang akan dipasang tahun ini di Sumatera Barat. Menurut Ade, alat yang sudah dipasang, baru di Kota Padang dari tujuh kabupaten dan kota yang diperkirakan terkena dampak tsunami. Alat tersebut sudah dipasang di Padang, diantaranya, di Kantor Gubernur Sumatera Barat, Gedung DPRD Sumbar, gedung Universitas Negeri Padang dan gedung Universitas Bung Hatta Padang.
Alat itu akan diperbanyak hingga dua tahun kedepan hingga mencapai 600 unit. Kemampuan daya jangkau sirine dalam radius 700 meter hingga 1000 meter

Ade Edwar mengatakan, sistem peringatan dini tsunami atau West Sumatera Early Warning System itu terintegrasi langsung dengan INA TEWS Indonesia Early Warning System. Alat itu terintegrasi, agar sistem peringatan dini itu bisa bekerja optimal, didukung sejumlah sub sistem deteksi yang diberi nama Sipora. Pendukung sistem dimaksud antara lain sistem monitoring dan memantau yang tersistem dengan sistem early warning system. Lebih lanjut Ade Edwar mengatakan, alokasi anggaran sirine itu berasal dari APBD Sumatera Barat dimana harganya mencapai Rp 50 juta per unit.

Menurutnya, tehnologi sistem peringatan dini tsunami, baik sirine maupun alat pemantau permukaan air dipesan dari luar negeri, sementara komponennya dirangkai di dalam negeri. (RNS)
 
Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download