Labelling Terhadap Anak
PDF Print E-mail

Labelling , ataupun memberi stigma terhadap anak, biasanya terjadi saat emosi orang tua tidak terkontrol. Hal ini sering terjadi tanpa sadar, namun berakibat fatal kepada tumbuh kembang anak. Tak jarang, ini diakibatkan oleh pola asuh yang dulu diterima orang tua dari orang tuanya terdahulu. Orang tua menganggap, jika hari ini si orang tua bertahan, maka anak pun akan bertahan dengan pola demikian. Namun, pola seperti kurang tepat dalam membesarkan anak. Hidup adalah pilihan, dan orangtua adalah penyebab, bukan akibat. Adalah sebuah pilihan bagi orang tua, untuk menyikapi kekurangan anaknya dengan sikap positif ataupun negative.

Tidak melabel anak bukan berarti orang tua menjadi permisif. Ada perbedaan antara tegas dan marah. Marah biasanya dilakukan tanpa sadar, dan penuh emosi. Hal ini mengarah kepada hal negative. Meskipun demikian, marah biasanya diikuti dengan rasa marah dan rasa capek. Sementara, tegas berarti berpegangan pada aturan. Tegas menyiratkan pembelajaran, dan bukan penyesalan.

Banyak orang tua focus pada kesalahan anak, dan selalu mengungkit – ungkitnya. Sehingga ia tidak focus pada pembentukan si anak. Orangtua hendaknya bertanya pada dirinya, ‘what do I want’ yang menyiratkan ia ingin anak menjadi apa. Bukan what’s happening, yang menyiratkan apa yang terjadi.

Tidak dapat dipungkiri, lingkungan juga berperan melabel anak. Contohnya seperti lingkungan sekolah, dan juga pengasuh anak. Tugas orang tua adalah untuk menanyakan kepada  anak mengenai aktivitasnya selama tidak bersama orang tua, agar dapat meluruskan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti aktivitas labeling.

 

Summarized by : Livia