Anak Anak yang Suka Bertanya
PDF Print E-mail

Menyikapi pertanyaan anak yang kritis

 

Anak bagaikan sebuah CD blank, yang isinya akan di tentukan oleh orang tua. Saat anak di tuntut untuk ‘diisi’, maka orang tua harus bisa menyediakan jawaban yang tepat agar tidak menimbulkan definisi rancu dan membingungkan si anak. Kebanyakan orang tua, saat merasa bingung menjawab pertanyaan anak yang kritis, cenderung mengabaikan si anak. Hal ini tidak baik, karena secara tidak sadar orang tua mengajarkan anak bahwa mengabaikan orang lain adalah perbuatan yang wajar. Langkah yang paling tepat adalah dengan mengajak anak bersama – sama mencari jawaban atas pertanyaannya. Hal ini bisa di wujudkan dengan mencari di ensiklopedia, atau bahkan search engine via internet.  Hal ini akan membuat anak menyadari bahwa setiap orang memiliki keterbatasan, namun tetap harus berusaha mencari tahu.

Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk menyikapi anak kritis:

Strategi 1: Menjaga Kejujuran

Ketika ditanya anak tentang suatu hal, orang tua harus bersikap jujur. Maksudnya, orang tua harus menjawab pertanyaan itu secara objektif terukur. Orang tua tidak boleh menolak pertanyaan anak. Mereka itu memerlukan jawaban segera. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh menyesatkan pikiran anak dengan jawaban yang mbulet alias bertele-tele alias berbelit-belit. Jawablah pertanyaan anak itu dengan jujur.

 

Strategi 2: Menggunakan Bahasa Analogi

Pikiran anak belum mampu memahami penalaran tingkat tinggi. Oleh karena itu, pikiran anak perlu dirangsang dengan penalaran analogi. Penalaran analogi adalah pola berpikir yang menggunakan objek lain sebagai pembanding untuk memudahkan pengembangan gagasan. Pernyataan awal tulisan ini dapat digunakan sebagai contohnya, yaitu penggunaan istilah kaset untuk menggantikan istilah otak atau pikiran anak

 

Strategi 3: Bersikap Ramah

Anak sering bertanya tanpa mempertimbangkan kesopanan atau etika. Mereka hanya berdasarkan insting atau naluri keingintahuan. Jadi, mereka tidak pernah berpikir bahwa pertanyaan itu kurang etis ditanyakan. Namun, rasa ingin tahu membangkitkan keberaniannya untuk bertanya. Maka, orang tua tidak boleh menanggapi pertanyaan itu secara emosional. Orang tua harus bersikap ramah agar anak merasa dilayani.
 
pupupu