Welliansyah dan nostalgia PS Semen Padang era GALATAMA
PDF Print E-mail
Resume Classy Sport With Spartacks 20 Januari 2012

Bagi pecinta Semen Padang FC yang sudah terbilang senior pasti mengenal sosok Welliansyah, seorang “local hero” publik kota Padang yang lama melalang buana bersama PSP Padang (1984/85) dan PS Semen Padang (1986-2001). Karakternya sebagai pemain belakang yang ganas dan mempunyai tackling yang sangat keras, bahkan disebutkan mempunyai filosofi “Bola lewat, orangnya harus tinggal. Sebaliknya, jika orangnya lewat, tapi bola harus tinggal.”

15 tahun merumput bersama SP tentu membawa banyak cerita bagi Welli, apalagi sosok satu ini mengalami dua macam kompetisi sepakbola nasional yang selalu mengalami perubahan. Kompetisi tersebut adalah Liga Sepak Bola Utama (GALATAMA) yang diselenggaakan pada tahun 1979-1994 dan Liga Indonesia sejak musim 1994-2008. Kita patut berbaangga karena kompetisi Galatama merupakan embrio perkembangan kompetisi sepakbola semi-profesional dan profesional di Asia bersama liga Hong Kong. Pada kompetisi ini pula lah PS Semen Padang lahir dan memulai debutnya di tingkat nasional. Walaupun  tidak pernah memberikan prestasi yang membanggakan selain juara piala Galatama pada tahun 1993, namun SP adalah salah satu dari sangat sedikit tim eks Galatama yang sanggup bertahan hingga detik ini. Pada tahun 1994 Galatama dilebur dengan kompetisi Perserikatan (amatir) dan dibentuklah Liga Indonesia yang bertahan sampai tahun 2008 sampai digulirkannya Liga Super Indonesia (ISL) sebagai sebuah kompetisi yang dikonsepkan menjadi kompetisi profesional.

Classy : Banyak pecinta SP saat ini terutama yang masih muda yang tidak merasakan bagaimana kompetisi Galatama yang pernah diikuti oleh SP, untuk itu bisa diceritakan sedikit mengenai Galatama itu sendiri, baik mengenai sistem kompetisinya, aturan-aturannya serta lawan-lawan SP saat itu.
Welliansyah : Saya mulai bermain di Semen Padang FC sejak tahun 1986. Memang cita-cita saya dari kecil adalah menjadi seorang pemain bola dan pada saat itu saya kaget waktu dipanggil oleh pak haji (Suhatman Imam) untuk bergabung bersama tim Semen Padang FC, tim kebanggaan saya dan memang saya saat itu sangat ingin bermain untuk Semen Padang FC. Pada saat itu kompetisi berjalan baik. Liga sepak bola utama yang dikenal sebagai GALATAMA dikelola secara profesional. Pada saat itu ada GALATAMA dan ada juga liga perserikatan. Dimulai pada tahun 1979, GALATAMA menjadi liga semipro di Indonesia yang diikuti oleh tim-tim yang dikelola secara profesional. Pada kala itu banyak tim-tim era GALATAMA melahirkan pemain-pemain terbaik Indonesia.

Classy : Bagaimana sih keadaan tim SP saat itu? Jika dibandingkan dengan SP yang ada sekarang? Apakah sama saja atau berbeda sama sekali?
Welliansyah : Semen Padang FC pada saat itu menjadi salah satu tim yang cukup disegani oleh lawan. Kita juga menjadi salah satu tim yang paling minim mengalami kekalahan dikandang. Pada kala itu juga animo masyarakat terhadap tim sangat tinggi, sama seperti yang terlihat sekarang. Hanya saja bedanya sekarang sudah terkoordinasi dengan baik seperti SPARTACKS.

Classy : Fokus kepada kompetisi Galatama, terutama 1986-1994 ketika Bang Welli memperkuat SP. Ada momen-momen terindah bersama SP baik ketika menjalani kompetisi, pertandingan, latihan, dll?
Welliansyah : Selama saya bermain untuk tim SPFC kita beberapa kali tampl di final liga, pada tahun 1992 kita bahkan berhasil meraih piala liga Indonesia dan berhak mewakili Indonesia pada Piala winers Asia. Pada saat itu kita sampai ke babak 2 dimana kita mampu mengalahkan tim jepang di sini Padang namun akhirnya harus mengakui kehebatan lawan di Jepang. Pada tahun 1999 juga diberi kepercayaan oleh PSSI sebagai tim terbaik untuk bermain di Bangladesh. Pada saat itu Semen Padang FC dengan tim terbaik mengikuti kompetisi tersebut berhasil juara dan menjadi tim terbaik. Pada saat itu yang menjadi hal yang menarik adalah potensi pemain pemain lokal yang dimiliki oleh Semen Padang FC. Banyak pemain lokal Sumatera Barat potensial yang lahir, selain itu pemain dari luar Sumatera Barat juga merupakan bibit-bibit bintang Indonesia pada saat itu. Kita punya Delfi Adri pada saat itu, Ellie aiboy dan Erol juga menjadi rising star pada saat bergabung dengan Semen Padang FC.

Classy : Jikadibandingkandengankompetisisaatini, baik era Liga Super Indonesia (ISL) tahun 2008-2011 dan era Indonesian Premier League (IPL) mulaitahun 2011, apasajaperbedaansignifikan yang Bang Wellirasakan, apasajakelebihandankekurangankompetisisaatinijika dibandingkan dengan era Galatama?
Welliansyah : Pada era GALATAMA yang jelas pada saat itu kompetisi berjalan mulus dengan tujuan untuk membangun dan memajukan sepakbola Indonesia. Terbukti pada era GALATAMA melahirkan pemain-pemain terbaik Indonesia dan mampu meraih prestasi terbaik di SEA GAMES dan ajang Internasional lainnya.

Classy : Setujukah Bang Welli tentang wacana sebagian masyarakat yang menyebutkan bahwa konsep Galatama adalah konsep kompetisi sepakbola terbaik yang pernah dimiliki Indonesia? Kalau iya kenapa? Atau kalau tidak kenapa?
Welliansyah : Saya setuju, karena memang terbukti dengan liga yang bersih dan tujuan yang jelas seperti GALATAMA Indonesia menjadi salah satu tim yang diperhitungkan kala itu. Namun GALATAMA bukan tanpa cacat, masih ada kekurangan bahkan diakhir era galatama mafia mulai bermunculan dan mengakibatkan GALATAMA harus kehilangan kredibilitasnya.

Classy : Harapan untuk kompetisi sepakbola Indonesia saat ini dan masa yang akan datang.
Welliansyah : Untuk kompetisi saat ini kita harus duduk bersama, semua elemen sepakbola dan petinggi PSSI harus bersatu untuk mencari jalan keluar terbaik untuk kompetisi dan mendapatkan tim nasional yang kuat dan mampu berprestasi dikancah internasional. Dilema melihat kondisi saat ini, dan yang menjadi korban adalah pemain. Mereka serba salah karena mereka terikat kontrak oleh klub. Kita menginginkan 1 liga yang benar-benar berkualitas dan profesional, dengan kondisi sekarang sangat sulit bagi kita untuk berbicara prestasi tim nasional dikancah internasional.
 
pupupu